Kali ini tentang pendidikan untuk faizi dan masalah berhenti ngedot. Setelah masalah kehilangan asisten sudah terselesaikan, my mind is now fulfilled with these two problems, i won't say them as problems, issues are better. Bahas sedikit tentang asisten rumah yang baru, anak umur 15 tahun nih. Saya jadinya seperti melanggar aturan yang saya buat sendiri, i do not like seeing children under age 17 working, its' just not fair for them. Tapi what can I do, now. Saat pertama dia datang ke rumah, she doesn't look like a 15 year old girl. She just did everything without any pre-information from me. Well, they all are like that. They who had been such a hard worker will look older than they should. Saya saat ini mencoba mencari pembenaran dengan berpikir bahwa, she has no choices since she needs this job to assist his family life, I have also no choices. It will probably better for her to work this way rather than work in unsave condition or not working at all and let her little brothers and sisters, she has 4 of them, can't go to school. For me, it's clearly good, no need further explanation. Ok, enough about this, let's go back to the main topic.
Berhenti ngedot
I just read lots of Smart parents statement on the sehatgroup relating with this. Intinya, mereka berpendapat bahwa anak di atas satu tahun sebaiknya sudah berhenti minum susu dengan dot, alasan terkuat dari banyak alasan karena bisa mengganggu kualitas gigi dan menyebabkan karies, apalagi kalau dilakukan sebelum tidur. Belum lagi masalah membersihkan gigi sesudah minum susu yang juga sama sama mengakibatkan karies. Saat ini faizi minum dengan botol kesayangannya dan minum susu sebelum tidur adalah keharusan. I have to think some ways to start to make him bye bye the bottle. Mungkin diawali dengan minum dari sedotan, kebetulan dia minum susu UHT sekarang (see bye bye formula welcome UHT) dan juga sudah bisa menyedot. Tapi kemungkinan besar 50 persennya membasahi baju jadi musti dibantu dengan sendokan dari gelas. Sementara kebiasaan ngedot menjelang tidur pasti akan lebih rumit dari ini, but i have to be confident that this is do-able. Semua SP di milis sehat itu memang menyatakan bukan proses mudah untuk menyetop kebiasaan ini, sebagaimana semua kebiasaan memang bukanlah hal yang mudah untuk di stop. It need times, patience and love. Let us just give a try ya de izi...
Second of all, Pendidikan untuk faizi.
No, i am not talking about me having intention to get him a one year old baby education. Saya membaca artikel tentang bagaimana tren yang sedang berkembang sekarang, anak-anak karbitan, menjamur di hampir semua belahan dunia. Temans mungkin bisa search di google, try "anak-anak karbitan", pasti akan muncul satu artikel dari Ibu Dewi Utama Faizah, seorang karyawan Depdiknas looh, yang cenderung mengkritisi tren tersebut. Kalau saja Ibu Dewi ini adalah seseorang yang punya kekuasaan cukup besar di lingkungan pendidikan indonesia, let's say a minister (hhmm... sounds great, a woman education minister) yang mendapat dukungan instansi terkait (nah ini yang lebih susah lagi) pasti akan ada reformasi pada sistem pendidikan di indonesia tercinta ini. Sistem yang kalau masuk sd harus bisa baca, smp dan sma yang cenderung membosankan dan perguruan tinggi yang kurang professional oriented. Sistem yang hanya berorientasi high captive market, sekolah mahal=sekolah bagus, etc,etc. Saya pernah jadi bagian dari sistem ini, bahkan saya sekarang tidak mungkin ada tanpa melalui proses yang diciptakan sistem pendidikan di indonesia. Saya termasuk orang yang telah menikmati hasil dari sistem pendidikan indonesia yang saya kritik di atas. Tapi saya ingin sistem yang jauh lebih baik untuk anak saya. I want the best for him, if it;s not for me. Mungkin ini yang dibilang, psikologis seorang ibu. Kalau kakinya yang diinjak, mau gimana lagi, udah diinjak kok, tpai kalau anaknya yang diinjak, dia akan lebih sakit daripada si anak. So, jadilah saya sekarang tiba tiba aja berlaga jadi pengkritisi sistem pendidikan. You know, when you're getting older, something is changing in you mind. You can see things clearly, in bigger mode, and you just can feel that something is right or wrong. Esepcially being a mother, you'll be a greatest critical person ever. Ini yang melead saya ke pertanyaan: "dimana saya akan mempercayakan faizi untuk bersekolah?". Ini kemudian harus saya cari jawabannya dengan menelusuri pertanyaan-pertanyaan terkait yang secara simultan memunculkan pertanyaan ini. apa yang saya harapkan dari seorang anak, apakah salah kalau orang tua mengharapkan seorang anak untuk menjadi sesuatu seperti yang diinginkannya, simultan-simultan apa yang harus saya berikan agar dia dapat tumbuh kembang dengan baik, anak yang baik itu yang seperti apa sih?
Well, this is hard. Tentu saja saya ingin faizi jadi anak yang baik. Baik means, he can have such personality traits that one must have to be condemned as a good person. Saya di lain sisi juga tidak akan memaksakan kehendak kepada faizi, tapi faizi punya kehendaknya sendiri saat dia sudah dewasa sehingga kemungkinan besar kehendaknya itu akan sangat tergantung dari apa yang kita stimulasikan ke faizi saat dia masih belum punya kehendak. Circular problems...Ini artinya lagi, akan sangat tergantung kepada saya dan suami untuk membentuknya. Tapi kita juga tidak boleh lupa terhadap takdir Allah S.W.T kepada faizi. Balance, this is the keyword, i guess. DI sini letak tantangannya, bagaimana saya bisa mengarahkan faizi dengan tidak memaksakan kehendak. Duh, gampang kalo nulis, tapi pasti susah aplikasinya. I guess, dalam konteks implementasinya, saya akan menstimulasi (baca: mengarahkan)faizi untuk menjadi anak yang bertanggung jawab, bisa membuat keputusan yang baik, menghargai orang lain, kepercayaan, dan kasih sayang. Dan dalam kondisi aktualnya saya harus dengan cermat melihat potensi potensi personality traits faizi yang perlu dikembangkan dan potensi yang harus diminimalisir. Mudah-mudahan dengan cara ini kemudian, saat dia masuk sekolah nanti, sejenis mahluk apapun kurikulumnya, bad or good or average, faizi akan menjalaninya dengan traits yang sudah dia miliki sebelumnya. Dan sistem pengontrolan dari saya juga harus tetap dijaga dengan selalu menjadi bestfriend nya faizi dimana dengan save dia bisa share apapun sehingga saya bisa selalu tau whether he is ok or not. If he is ok, than it's good. If he is not ok, i will be there for him if he need me and i will be watching over him if he can fix it by himself. SIlahkan wahai para pendidik bangsa melakukan apapun yang kalian suka terhadap faizi nantinya, tapi faizi akan tetap menjadi bagian dari diri saya dan saya akan fight with and for him if you guys do wrong. Dan please deh para pendidik bangsa, bantu kami para orang tua untuk bisa mendidik mereka menjadi anak anak yang terasah potensinya, kemampuan otak yang seiring dengan dengan kemampuan "hati" nya. I still have faith on you guys karena saya juga pernah punya guru-guru hebat di masa saya, guru-guru yang selalu tinggal di hati saya meskipun sudah belasan tahun yang lalu bahkan sampai saya tua nanti. I guess kalian semua juga lebih memilih menjadi orang yang selalu dikenang oleh murid-murid kalian yang akan jadi orang hebat nantinya, daripada dikenang oleh murid-murid yang kehilangan masa depan karena kalian kan?
See, how i have become critical?
Thursday, June 14, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
