
Dari sekian lebar spektrum perasaan yang kurasa saat Idul Fitri ini, ziarah kuburan adalah yang paling membekas. Ziarah ke makam Mamah Laela sebagaimana tahun-tahun sebelumnya memang selalu saja membuatku menangis. Karena membayangkan betapa indahnya seandainya aku bisa hidup dan dibesarkan oleh beliau.
Tapi tahun ini, mamah Ely juga dijemput sang Malaikat Kematian. Entah kenapa, hanya ada kenangan manis di kepalaku. Sulit bagiku mengingat kepahitan yang pernah ada. Dan berziarah di makamnya, menggoncangkan perasaanku, kehilangan, kesedihan, perasaan bersalah, penyesalan, bertanya-tanya apakah aku telah menjadi anak yang baik baginya.
Aku telah menjadi orang yang terlalu pemimpi saat aku menatap makam Mama Laela dan saat aku ada di makam Ely, aku seperti disadarkan dari mimpi itu.
Aku selalu ingin bertemu Mama Laela, tapi aku pun merindukanmu Ma Ely. Perasaan yang jarang ada saat engkau masih ada di dunia ini. Aku berharap kalian berdua ada di tempat terindah di Surga Mu Ya Rabb.
Dan ziarah ke dua makam ibuku tersebut menyisakan banyak keinginan ke depan. Menguak banyak cerita lama yang tersimpan. Menghadirkan cermin lain di hadapanku. Bahwa hidup memang sangat singkat untuk kita sia-sia kan. Terlalu indah seindah mimpi indah untuk kita gelisah-i tapi juga terlalu nyata untuk terus membuat kita bermimpi. Wish I can live this life better before finally my time is up.
