Monday, March 24, 2008

Handphone..o..handphone

Lagi-lagi hari ini aku membuat sedih si ayah. Karena terlalu lama merespond sms nya. Duh...susah juga. Hal ini bukan sekali ini saja terjadi, bahkan ketika ayah belum berangkat pun kami sudah sering konflik karena ini. Entah apalah sebabnya. Yang jelas, aku tak mau berkonflik ria karena masalah ini. And I promise my self again, that I would bring along my mobile wherever I go. It's an easy thing for most people in the world, I'm sure, as mobile phone has been everybody's sweetheart. For me, it's not. Not anymore. I even start to sometime, hate about it. Since one of the cause for the chaos in my home, back then, is this thing. The thing that has shocking me up with everything on it. Name, numbers, message, phone list, not to mention bill. The thing that sometime people concern more than the people they care about. The thing that has ruin my family time at home with the ringing tones calling in the middle of the night or sms. The thing that when I touch it means I don't respect and trust my spouse. In the name of business? In the name of networking? In the name of command? In the name of privacy? You name it, buddy.
Selain untuk negara, untuk perintah, untuk senjata, aku juga harus mengalah untuk handphonemu. Funny, isnt it? And when I start to hate the thing, I would have to bring it everywhere I go. Well, life is a boring episodes without funny things in it. And I accept it with smile, love and of course...headache...

Liburan 4 hari (bag 3 - selesai)

Membaca Ayat Ayat Cinta juga mengisi waktu liburan empat hari ini. Sebetulnya tidak terlalu banyak waktu yang bisa kuluangkan untuk membacanya, berhubung hari terasa pendek banget (see bag 1 dan bag 2). Aku hanya bisa membaca setengahnya dari buku itu.
Ini kali pertama aku begitu tertarik nya sama novel. Beberapa alasan. MEdia memberitakan begitu besarnya animo masyarakat terhadap film Ayat Ayat Cinta sampai-sampai para pejabat tinggi negara yang notabene adalah aktivis islam memberikan pendapatnya bahkan menganjurkan para muslim untuk menontonnya. Itu alasan yang pertama. KEdua, karena di daerahku tidak ada bioskop, apa mau dikata, hanya bisa menikmatinya lewat buku. (kalau adapun kurasa aku tak bisa pergi menontonnya, husband factor). Dan yang sebenarnya, alasan kedua inilah yang paling kuat, tentunya. Akhirnya, atas kebaikan seorang teman yang adalah sahabat suamiku, aku dibelikan buku dan dikirimkan ke kantor, ditambahin pula novel Laskar Pelangi, makasih ya A Opin. You are great. BEgitulah hidup di kota ini, tak ada Gramedia, tak ada bioskop, tak ada Mc D, tak ada salon yang bagus, tak apalah, uangku jadi utuh. He he he
Membaca novel AAC (biar ngga pegel ngetiknya) memang menggetarkan hati. Aku selalu mengagumi mereka yang bisa menulis sesuatu yang bisa membawaku ke dalam tulisannya. Aku pikir, orang seperti itu adalah orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata karena mampu memadukan satu alur pemikiran yang sistematis yang harus bisa dimengerti pembaca lalu menuangkannya dalam kalimat-kalimat indah yang tersangkut paut. Writers must be great dreamer and a great dreamer is a great thinker. Dan AAC ini tak berhenti di situ. Dia telah memberikan inspirasi rohaniah yang mana tak mudah untuk masuk dalam jiwa rohani seseorang. Untuk menyentuhnya membutuhkan satu sensitivitas yang tinggi dan lembut tapi tajam. Apalagi penokohan Fahri yang sangat idealis namun tetap penuh toleran. BEgitu fokus dalam hidupnya. Semua ia jalani dalam satu koridor yang tak sedikitpun ia beri kelonggaran bahkan ketika ia bermimpi sekalipun isi kepalanya tak pergi dari koridornya. Kupikir semua orang mendambakan hidup dalam kenyamanan seperti itu. Penuh perjuangan namun tak melelahkan karena berdasar pada keyakinan yang teguh. Hidup jauh lebih melelahkan ketika fokus tak ada meski kemudahan diberikan. Lelah karena kehampaan.
Tokoh Fahri menunjukkan betapa idealisme bukan satu menara gading yang hanya bisa dilihat namun tak terasa di raga. Dikagumi tanpa dapat dirasakan manfaatnya. Idealisme hanya berarti ketika ia termanifestasi dalam fakta. BUkan fakta yang realistis mengikuti alur yang tak tentu arah. Tapi realitas yang terwujud dari keteguhan keyakinan dicampur energi potensial yang menggerakkan tubuh untuk membenturkannya dalam kehidupan nyata. I would give everything to have that kind of live.
Ten things the novel has done to me:
Give more enjoy to my holiday
A little arguing with husband
Add another factor to feel proud as Indonesian
Add another factor to feel proud as Moslem
Imagining being Fahri, Maria, Aisha
Egypt is now the answer when people ask, which part of the world you want to see the most?
Read more novel that alike AAC
Read for Faizi before bedtime, story of Islam hikayat
Start to have personal library (ini beraaatt)
Being a better Moslem (Ini paling beraatt)