Thursday, March 27, 2008
Maaf dan Terima kasih
Beautiful words, don't they?. Sorry and thank you. Add sober, stir and covered by smile. Pasti jadi kudapan yang uenaak nya pool. As my lesson learn today: say sorry when others find me doing mistakes, even if I do not think it is wrong. Because it show that they care about me. That's what makes a relationship between people may keep establishing from step to step, better when it comes to higher step. Think before you act, rather you have to say sorry and hurt people you care. But when you can not avoid to hurt them, say sorry and face the consequences. As long as you're not hurt them by intention, God will recover the heart of those you have hurt. Be patient, wait for the time when they will give you back the smile. You will realize that being patience and awaiting through the time, will make you even stronger. And believe me, the result is: you will really think it over and think twice (probably more) before you act since saying sorry, though, is only sweet when it doesnt repeated. (If we keep saying sorry all the time, means there are things to be fix, you don't want people think that something wrong with you, do you?)
Wednesday, March 26, 2008
Robin Hood wannabe
Bukan, aku bukan mau nulis resensi film dengan seribu versi yang keren itu.
Hari ini, ada dua training di kantor, internal dengan trainer orang dalem. Minggu lalu juga begitu, dua training di hari yang sama. Pokoknya bulan Maret ini training-training dan training. Kurasa juga tak akan berhenti di situ. April sampai Desember akan penuh dengan training. Hebat ya, gw training terus, ya iya lah, HRD gitu loh, bagian ngurusin training bukaan? he he
Dan hari ini, aku tak hanya sekedar meng- arrange. Tertarik dengan materi nya, aku pun ikut masuk dan duduk bersama peserta lainnya dari divisi warehouse. Interesting, really. SUpply chain dan inventory adalah hal yang sama sekali belum aku kenal. Ditambah lagi dengan trainer nya, Amin Sardjono, senior manager favorit. Pintar, penuh ide, sangat interaktif dengan bawahannya, very down to earth. Wajar lah ya, SMP dan SMA nya aja sama ma aku di Bogor. he he. Makin makin deh kekagumanku. Dia dibantu sama Mbak Irma, the only women in managerial line. Very dominant person.
Empat jam sebelumnya juga ada training, 3C dan OCC, salah satu alat pengambil keputusan dan penyelesaian masalah (decision making and problem solving) yang diadopsi dari LEan Manufacturing (banyak orang mengenalnya melalui: Toyota Way). Minggu kemarin, computer skill, memperdalam Excell.
Semua nya great.
Saya suka cara Pak Dino mengajarkan computer skill pada rekan-rekan dan hari itu juga langsung aku praktekkan pivot table untuk dokumen legal yang cukup banyak di brankas ku. ALhasil, ketika ada anak accounting minta dokumen, Aku bisa temukan dalam 3 menit. YEs, it's great achievement. Sesuai teori, in three minutes finding document means you can manage them well. Meskipun untuk bapak-bapak supervisor produksi ngga terlalu applicable karena pekerjaan mereka memang tidak banyak berhubungan dengan analisa data. Tapi saya tetap senang melihat semangat bapak-bapak itu.
3C (concern, cause, countermeasure) dan Our Contribution Counts (OCC), keduanya tak asing lagi bagiku. Sepanjang tahun 2007, sejak awal tahun Pak Raspati pulang dari Birmingham bawa ilmu Lean nya Unipart, aku sudah dimasukkan dalam team inti CI LEan. I kinda familiar with those tools. Though, I still love to watch Pak Raspati explaining things with his bright eyes and smart funny jokes this morning.
Dan hari ini, ok banget. Pokoknya, ok deh. Satu hal yang paling diinget. Cycling counts. Besok mau langsung tak praktekkan (kalo sempet).
It's the "Robin Hood" time, stealing for kindness, steal the knowledge from the smart. I start to love this office. It's really weird to realize that love will eventually exist even with earlier bad impression. It's actually really depend on how we look over the whole, in life.
Hari ini, ada dua training di kantor, internal dengan trainer orang dalem. Minggu lalu juga begitu, dua training di hari yang sama. Pokoknya bulan Maret ini training-training dan training. Kurasa juga tak akan berhenti di situ. April sampai Desember akan penuh dengan training. Hebat ya, gw training terus, ya iya lah, HRD gitu loh, bagian ngurusin training bukaan? he he
Dan hari ini, aku tak hanya sekedar meng- arrange. Tertarik dengan materi nya, aku pun ikut masuk dan duduk bersama peserta lainnya dari divisi warehouse. Interesting, really. SUpply chain dan inventory adalah hal yang sama sekali belum aku kenal. Ditambah lagi dengan trainer nya, Amin Sardjono, senior manager favorit. Pintar, penuh ide, sangat interaktif dengan bawahannya, very down to earth. Wajar lah ya, SMP dan SMA nya aja sama ma aku di Bogor. he he. Makin makin deh kekagumanku. Dia dibantu sama Mbak Irma, the only women in managerial line. Very dominant person.
Empat jam sebelumnya juga ada training, 3C dan OCC, salah satu alat pengambil keputusan dan penyelesaian masalah (decision making and problem solving) yang diadopsi dari LEan Manufacturing (banyak orang mengenalnya melalui: Toyota Way). Minggu kemarin, computer skill, memperdalam Excell.
Semua nya great.
Saya suka cara Pak Dino mengajarkan computer skill pada rekan-rekan dan hari itu juga langsung aku praktekkan pivot table untuk dokumen legal yang cukup banyak di brankas ku. ALhasil, ketika ada anak accounting minta dokumen, Aku bisa temukan dalam 3 menit. YEs, it's great achievement. Sesuai teori, in three minutes finding document means you can manage them well. Meskipun untuk bapak-bapak supervisor produksi ngga terlalu applicable karena pekerjaan mereka memang tidak banyak berhubungan dengan analisa data. Tapi saya tetap senang melihat semangat bapak-bapak itu.
3C (concern, cause, countermeasure) dan Our Contribution Counts (OCC), keduanya tak asing lagi bagiku. Sepanjang tahun 2007, sejak awal tahun Pak Raspati pulang dari Birmingham bawa ilmu Lean nya Unipart, aku sudah dimasukkan dalam team inti CI LEan. I kinda familiar with those tools. Though, I still love to watch Pak Raspati explaining things with his bright eyes and smart funny jokes this morning.
Dan hari ini, ok banget. Pokoknya, ok deh. Satu hal yang paling diinget. Cycling counts. Besok mau langsung tak praktekkan (kalo sempet).
It's the "Robin Hood" time, stealing for kindness, steal the knowledge from the smart. I start to love this office. It's really weird to realize that love will eventually exist even with earlier bad impression. It's actually really depend on how we look over the whole, in life.
Tuesday, March 25, 2008
Handphone..o..handphone (lagi)
Lagi seneng nulis cerber nih...anggap aja ini bag ke 2 "Handphone o..Handphone". After reading Emprut blog, I kinda inspired to start tracing back all the old friends. One of my past life that I feel very grateful to God is that I am quite good in making friends (hopefully not good in letting them down, now).
Temen SDN Ciherang V Laladon, entah pada kemana, kecuali Rama karena ketemu lagi pas udah gede, sekarang ada di Perth, a very best buddy ever ever ever...
TEmen SMPN IV Bogor, banyaaakk, yang paling diinget, Lusi Susi si kembar, Betty si idung merah, Elsi, Ari, Ina, Budi, Rohmat, Erma, Andi, dll, dll. Temen LKBB yang pada jangkung kurus item, temen Pramuka yang juga item item, temen OSIS yang pinter-pinter. Masa sekolah yang paling indah for me. Ngga seperti kebanyakan orang yang paling diingat adalah SMU, buat saya SMP jauh lebih menarik. Karena diberi kesempatan sama Allah untuk menunjukkan prestasi yang buanyaaak bangetss. Yang paling bikin terharu adalah ketika saya sudah kuliah, main main ke SMP, di kantor ada foto saya lagi berdampingan sama piala yang tingginya hampir sejajar, piala juara I Gerak Jalan 17 KM yang komandannya adalah Indah Yuliana dari kelas 2F, hehehe, it's meee....Gw iteeem banget, kurus, rambut cengklak cengklik ngga jelas gitu, pake topi biru model suster, rok kota-kotak dan kemeja tangan pendek dengan sarung tangan putih yang kelihatan sangat kontras dengan warna kulitku.
Temen SMUN I Bogor, kebanyakan ketemu lagi di UI.
KMB UI friends (kumpulan anak anak bogor yang kuliah di UI, tempat nongkrong: stasius UI peron Bogor, buryam matahari deket stasiun Bogor). I once had been the first and only girl being the organization Chairman (for period of 1999-2000, if i'm not mistaken). NUmber of friends, a lot that I can not even approx amount.
KOM UI friends( kumpulan anak komunikasi UI angkatan 97), tempat nongkrong: balsem Fisip, Gedung G (kl gak salah), taman fisip ui. Amount: 49, the amount of total person in the 97'ers. Plus adik adik kelas dan kakak-kakak kelas yang sangat solid dengan adanya sistem networking (baca: penggojlogan): sarasehan. Salah satunya Maia Estianty loh, dua tahun di atas gw dan Rossa satu tahun di atas gw. Two very powerful artist right now, boleh kan ikutan bangga.
PIB friends (kumpulan researcher di aliansi/LSM PIB), tempat nongkrong: warroom, yang mana adalah nama tim kita dan menjadi nama ruangan kita, terinspirasi dari nama tim suksesi presiden di USA, berhubung saat itu kami mengusung satu nama untuk jadi presiden, DR. SJahrir. Name: Riska, Noor, Renny, Zeze, Woko, Sakti, Roni, Oji, Prelia. dengan staf nya: Bu Poppy, Bu Titi, Mba Erna, Mela, Mas Slamet, dll, dll (lupa). Dengan orang orang pentingnya selain Dr. Sjahrir: Ny. Marulam (Bu Jojo), Dede Basri, Rocky Gerung, Dedy Panigoro, dll, dll (lupa juga)
DAC friends (kumpulan anak-anak di Danamon Access Center). Tempat nongkrong: workstation (ws). Name: Ririn, Raka, Denta, Dea, Vici, Fajar, Darma, si ayah (lupa namanya, tp paling toku), yanos, ari ganteng (kt orang, kt gw sih biasa aja, terlalu putih), Rina, dll, dll. Stafnya: Mas Dodot (the best), Mba RIma, Mas Dwi, MAs Greg, Mba Ayu, Mba Lia, Mba Ria, dll, dll.
Temen SDN Ciherang V Laladon, entah pada kemana, kecuali Rama karena ketemu lagi pas udah gede, sekarang ada di Perth, a very best buddy ever ever ever...
TEmen SMPN IV Bogor, banyaaakk, yang paling diinget, Lusi Susi si kembar, Betty si idung merah, Elsi, Ari, Ina, Budi, Rohmat, Erma, Andi, dll, dll. Temen LKBB yang pada jangkung kurus item, temen Pramuka yang juga item item, temen OSIS yang pinter-pinter. Masa sekolah yang paling indah for me. Ngga seperti kebanyakan orang yang paling diingat adalah SMU, buat saya SMP jauh lebih menarik. Karena diberi kesempatan sama Allah untuk menunjukkan prestasi yang buanyaaak bangetss. Yang paling bikin terharu adalah ketika saya sudah kuliah, main main ke SMP, di kantor ada foto saya lagi berdampingan sama piala yang tingginya hampir sejajar, piala juara I Gerak Jalan 17 KM yang komandannya adalah Indah Yuliana dari kelas 2F, hehehe, it's meee....Gw iteeem banget, kurus, rambut cengklak cengklik ngga jelas gitu, pake topi biru model suster, rok kota-kotak dan kemeja tangan pendek dengan sarung tangan putih yang kelihatan sangat kontras dengan warna kulitku.
Temen SMUN I Bogor, kebanyakan ketemu lagi di UI.
KMB UI friends (kumpulan anak anak bogor yang kuliah di UI, tempat nongkrong: stasius UI peron Bogor, buryam matahari deket stasiun Bogor). I once had been the first and only girl being the organization Chairman (for period of 1999-2000, if i'm not mistaken). NUmber of friends, a lot that I can not even approx amount.
KOM UI friends( kumpulan anak komunikasi UI angkatan 97), tempat nongkrong: balsem Fisip, Gedung G (kl gak salah), taman fisip ui. Amount: 49, the amount of total person in the 97'ers. Plus adik adik kelas dan kakak-kakak kelas yang sangat solid dengan adanya sistem networking (baca: penggojlogan): sarasehan. Salah satunya Maia Estianty loh, dua tahun di atas gw dan Rossa satu tahun di atas gw. Two very powerful artist right now, boleh kan ikutan bangga.
PIB friends (kumpulan researcher di aliansi/LSM PIB), tempat nongkrong: warroom, yang mana adalah nama tim kita dan menjadi nama ruangan kita, terinspirasi dari nama tim suksesi presiden di USA, berhubung saat itu kami mengusung satu nama untuk jadi presiden, DR. SJahrir. Name: Riska, Noor, Renny, Zeze, Woko, Sakti, Roni, Oji, Prelia. dengan staf nya: Bu Poppy, Bu Titi, Mba Erna, Mela, Mas Slamet, dll, dll (lupa). Dengan orang orang pentingnya selain Dr. Sjahrir: Ny. Marulam (Bu Jojo), Dede Basri, Rocky Gerung, Dedy Panigoro, dll, dll (lupa juga)
DAC friends (kumpulan anak-anak di Danamon Access Center). Tempat nongkrong: workstation (ws). Name: Ririn, Raka, Denta, Dea, Vici, Fajar, Darma, si ayah (lupa namanya, tp paling toku), yanos, ari ganteng (kt orang, kt gw sih biasa aja, terlalu putih), Rina, dll, dll. Stafnya: Mas Dodot (the best), Mba RIma, Mas Dwi, MAs Greg, Mba Ayu, Mba Lia, Mba Ria, dll, dll.
Andai saja aku punya cara untuk bisa keep contact to all of them, at least to tell them how I much I feel grateful having them as friends, one of the biggest part that has built me. Dari beberapa teman yang disebutkan, masih ada tentunya yang keep contact, those who really close and know my private story a lot. They are nita, putri, shynta, riryn. Atau mereka yang rutin say hello, riska, decil, raka, denta, noor, didi, dini.
And you know what? handphone has turn to be the thing that I hate but able me to keep contact with old friends. Yes, I must admit this.
Handphone, I will make peace with you, start from now.
Monday, March 24, 2008
Handphone..o..handphone
Lagi-lagi hari ini aku membuat sedih si ayah. Karena terlalu lama merespond sms nya. Duh...susah juga. Hal ini bukan sekali ini saja terjadi, bahkan ketika ayah belum berangkat pun kami sudah sering konflik karena ini. Entah apalah sebabnya. Yang jelas, aku tak mau berkonflik ria karena masalah ini. And I promise my self again, that I would bring along my mobile wherever I go. It's an easy thing for most people in the world, I'm sure, as mobile phone has been everybody's sweetheart. For me, it's not. Not anymore. I even start to sometime, hate about it. Since one of the cause for the chaos in my home, back then, is this thing. The thing that has shocking me up with everything on it. Name, numbers, message, phone list, not to mention bill. The thing that sometime people concern more than the people they care about. The thing that has ruin my family time at home with the ringing tones calling in the middle of the night or sms. The thing that when I touch it means I don't respect and trust my spouse. In the name of business? In the name of networking? In the name of command? In the name of privacy? You name it, buddy.
Selain untuk negara, untuk perintah, untuk senjata, aku juga harus mengalah untuk handphonemu. Funny, isnt it? And when I start to hate the thing, I would have to bring it everywhere I go. Well, life is a boring episodes without funny things in it. And I accept it with smile, love and of course...headache...
Selain untuk negara, untuk perintah, untuk senjata, aku juga harus mengalah untuk handphonemu. Funny, isnt it? And when I start to hate the thing, I would have to bring it everywhere I go. Well, life is a boring episodes without funny things in it. And I accept it with smile, love and of course...headache...
Liburan 4 hari (bag 3 - selesai)
Membaca Ayat Ayat Cinta juga mengisi waktu liburan empat hari ini. Sebetulnya tidak terlalu banyak waktu yang bisa kuluangkan untuk membacanya, berhubung hari terasa pendek banget (see bag 1 dan bag 2). Aku hanya bisa membaca setengahnya dari buku itu.
Ini kali pertama aku begitu tertarik nya sama novel. Beberapa alasan. MEdia memberitakan begitu besarnya animo masyarakat terhadap film Ayat Ayat Cinta sampai-sampai para pejabat tinggi negara yang notabene adalah aktivis islam memberikan pendapatnya bahkan menganjurkan para muslim untuk menontonnya. Itu alasan yang pertama. KEdua, karena di daerahku tidak ada bioskop, apa mau dikata, hanya bisa menikmatinya lewat buku. (kalau adapun kurasa aku tak bisa pergi menontonnya, husband factor). Dan yang sebenarnya, alasan kedua inilah yang paling kuat, tentunya. Akhirnya, atas kebaikan seorang teman yang adalah sahabat suamiku, aku dibelikan buku dan dikirimkan ke kantor, ditambahin pula novel Laskar Pelangi, makasih ya A Opin. You are great. BEgitulah hidup di kota ini, tak ada Gramedia, tak ada bioskop, tak ada Mc D, tak ada salon yang bagus, tak apalah, uangku jadi utuh. He he he
Membaca novel AAC (biar ngga pegel ngetiknya) memang menggetarkan hati. Aku selalu mengagumi mereka yang bisa menulis sesuatu yang bisa membawaku ke dalam tulisannya. Aku pikir, orang seperti itu adalah orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata karena mampu memadukan satu alur pemikiran yang sistematis yang harus bisa dimengerti pembaca lalu menuangkannya dalam kalimat-kalimat indah yang tersangkut paut. Writers must be great dreamer and a great dreamer is a great thinker. Dan AAC ini tak berhenti di situ. Dia telah memberikan inspirasi rohaniah yang mana tak mudah untuk masuk dalam jiwa rohani seseorang. Untuk menyentuhnya membutuhkan satu sensitivitas yang tinggi dan lembut tapi tajam. Apalagi penokohan Fahri yang sangat idealis namun tetap penuh toleran. BEgitu fokus dalam hidupnya. Semua ia jalani dalam satu koridor yang tak sedikitpun ia beri kelonggaran bahkan ketika ia bermimpi sekalipun isi kepalanya tak pergi dari koridornya. Kupikir semua orang mendambakan hidup dalam kenyamanan seperti itu. Penuh perjuangan namun tak melelahkan karena berdasar pada keyakinan yang teguh. Hidup jauh lebih melelahkan ketika fokus tak ada meski kemudahan diberikan. Lelah karena kehampaan.
Tokoh Fahri menunjukkan betapa idealisme bukan satu menara gading yang hanya bisa dilihat namun tak terasa di raga. Dikagumi tanpa dapat dirasakan manfaatnya. Idealisme hanya berarti ketika ia termanifestasi dalam fakta. BUkan fakta yang realistis mengikuti alur yang tak tentu arah. Tapi realitas yang terwujud dari keteguhan keyakinan dicampur energi potensial yang menggerakkan tubuh untuk membenturkannya dalam kehidupan nyata. I would give everything to have that kind of live.
Ten things the novel has done to me:
Give more enjoy to my holiday
A little arguing with husband
Add another factor to feel proud as Indonesian
Add another factor to feel proud as Moslem
Imagining being Fahri, Maria, Aisha
Egypt is now the answer when people ask, which part of the world you want to see the most?
Read more novel that alike AAC
Read for Faizi before bedtime, story of Islam hikayat
Start to have personal library (ini beraaatt)
Being a better Moslem (Ini paling beraatt)
Ini kali pertama aku begitu tertarik nya sama novel. Beberapa alasan. MEdia memberitakan begitu besarnya animo masyarakat terhadap film Ayat Ayat Cinta sampai-sampai para pejabat tinggi negara yang notabene adalah aktivis islam memberikan pendapatnya bahkan menganjurkan para muslim untuk menontonnya. Itu alasan yang pertama. KEdua, karena di daerahku tidak ada bioskop, apa mau dikata, hanya bisa menikmatinya lewat buku. (kalau adapun kurasa aku tak bisa pergi menontonnya, husband factor). Dan yang sebenarnya, alasan kedua inilah yang paling kuat, tentunya. Akhirnya, atas kebaikan seorang teman yang adalah sahabat suamiku, aku dibelikan buku dan dikirimkan ke kantor, ditambahin pula novel Laskar Pelangi, makasih ya A Opin. You are great. BEgitulah hidup di kota ini, tak ada Gramedia, tak ada bioskop, tak ada Mc D, tak ada salon yang bagus, tak apalah, uangku jadi utuh. He he he
Membaca novel AAC (biar ngga pegel ngetiknya) memang menggetarkan hati. Aku selalu mengagumi mereka yang bisa menulis sesuatu yang bisa membawaku ke dalam tulisannya. Aku pikir, orang seperti itu adalah orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata karena mampu memadukan satu alur pemikiran yang sistematis yang harus bisa dimengerti pembaca lalu menuangkannya dalam kalimat-kalimat indah yang tersangkut paut. Writers must be great dreamer and a great dreamer is a great thinker. Dan AAC ini tak berhenti di situ. Dia telah memberikan inspirasi rohaniah yang mana tak mudah untuk masuk dalam jiwa rohani seseorang. Untuk menyentuhnya membutuhkan satu sensitivitas yang tinggi dan lembut tapi tajam. Apalagi penokohan Fahri yang sangat idealis namun tetap penuh toleran. BEgitu fokus dalam hidupnya. Semua ia jalani dalam satu koridor yang tak sedikitpun ia beri kelonggaran bahkan ketika ia bermimpi sekalipun isi kepalanya tak pergi dari koridornya. Kupikir semua orang mendambakan hidup dalam kenyamanan seperti itu. Penuh perjuangan namun tak melelahkan karena berdasar pada keyakinan yang teguh. Hidup jauh lebih melelahkan ketika fokus tak ada meski kemudahan diberikan. Lelah karena kehampaan.
Tokoh Fahri menunjukkan betapa idealisme bukan satu menara gading yang hanya bisa dilihat namun tak terasa di raga. Dikagumi tanpa dapat dirasakan manfaatnya. Idealisme hanya berarti ketika ia termanifestasi dalam fakta. BUkan fakta yang realistis mengikuti alur yang tak tentu arah. Tapi realitas yang terwujud dari keteguhan keyakinan dicampur energi potensial yang menggerakkan tubuh untuk membenturkannya dalam kehidupan nyata. I would give everything to have that kind of live.
Ten things the novel has done to me:
Give more enjoy to my holiday
A little arguing with husband
Add another factor to feel proud as Indonesian
Add another factor to feel proud as Moslem
Imagining being Fahri, Maria, Aisha
Egypt is now the answer when people ask, which part of the world you want to see the most?
Read more novel that alike AAC
Read for Faizi before bedtime, story of Islam hikayat
Start to have personal library (ini beraaatt)
Being a better Moslem (Ini paling beraatt)
Sunday, March 23, 2008
Liburan 4 hari (bag 2)
Empat hari liburan ini juga sudah membuatku punya waktu untuk sekedar berbincang-bincang di pagi hari dengan tetangga. Aku memang selalu menikmati waktu menyuapi Faizi di pagi hari sambil main main di halaman rumah. Mata kecilnya akan mulai mencari cari ayam atau kucing yang memang sering berkeliaran di sekitar rumah dan saat ketemu...naahh...dia kejar-kejar tuh sampe ngga peduli di depannya ada apa plus teriakan-teriakan kegirangan yang barangkali kedengeran sampe ujung blok (sebagaimana saat dia menangis, tentunya...) O, how much I love to see your big smile and your loud voice, son, as I hear the most beautiful music which always echoing in my ears nomatter where I am.
Satu kali, tetangga sambil bawa bayi kecilnya yang berumur 6 bulanan, datang mendekat. Bu, katanya, kemarin ada acara pelepasan Pak Rico dan Ny. Kok ngga dateng? padahal pelepasan itu juga untuk suami ibu dan ibu loh. I was like huuuu???? What is this. Orang yang mau di lepasnya juga udah dimana tau. Kalo cuma aku yang datang, kok kayak dagelan ya. Untunglah, aku memang ngga merasa di tembusi sehingga aku tak tau menau acara itu. Sang tetangga meneruskan, katanya, Komandan minta tolong sampaikan pesan ke ibu, mohon maaf kalau kemarin suami ibu tidak sempat ada acara pelepasan nya. Mudah2an ibu ngga kecewa. Seperti biasa, aku hanya tersenyum...
Sampai di rumah, aku berpikir...hhmmm...apa jadinya ya kalo ada pelepasan. pasti ada rasa haru, rasa bangga (apalagi suamiku pergi untuk tugas yang sifatnya "istimewa"), menambah kekuatan bagi suami yang pergi dan kesabaran bagiku dan keluarga. Sayang sekali ya, acaranya ngga diadakan, pikirku. Kecewa? Not at all. Beneran, not a single second.
Kupikir, kali ini aku merasa beruntung karena aku bukan orang yang tahu banyak hal tentang kedinasan suamiku. Tak ada satu keluarga intiku yang jadi tentara. Hanya kakek almarhum, saja. Itu pun dia dinas kesehatannya. Lainnya, politikus, pengusaha, pegawai negeri, profesi. karyawan swasta pun sangat jarang. Bagiku, tak pernah terpikir dan terbayangkan apa yang dikerjakan seorang tentara selain perang. Tragisnya, aku kuliah di sospol yang mana adalah kebanyakan aktivis aktivis vokal yang selalu berpandangan bahwa di negara demokrasi, tentara harus kembali ke barak, paling depan saat menurunkan mantan presiden HM Soeharto (alm) tahun 1998. Semakin tak mengertilah aku akan idealisme seorang tentara. Sampai ketika seorang pa mendatangiku (yg kemudian menjadi suamiku) di pertemuan pertama dan langsung ngajakin kawin(emang ya, tentara dimana mana, agresiif). I was like, huuuu???? Ok. Iya, aku jawab ok. (Ini tak tulis lain kali deh).
Tapi, swear, bahkan sampai ketika aku sudah menikah pun, tak pernah aku merasa hands on banget sama dunia ini. Entah karena aku bekerja full time atau memang bagiku tentara, ya orang biasa juga. Kecuali satu hal, yang sangat sangat aku kenal, tentara tak akan pernah memiliki idealismenya sendiri. Karena mereka terikat dalam satu ikatan komando. It's never easy to get to know a soldier personality, because their personality is their command. Ini sesuatau yang menurutku, apa ya, ngga, ngga ada satu katapun yang bisa represent this. Hanya..?????.....
Balik lagi ke soal pelepasan. Karena ketidaktauanku, maka tak kecewalah aku. Pertama karena latar belakangku di atas. Kedua, karena aku merasa mendapatkan berkah dari Allah yang lebih banyak dengan perginya suamiku. Mulai merasakan ada tetesan embunyang selama ini hilang, kepercayaan. Kalaupun saat suamiku kembali harus bergulat dalam dunia yang sebelumnya, tak apa lah. Karena kepercayaan yang ada sekarang akan kulipatgandakan sehingga dia akan menjadi sangat tebal ketika ada ujian ujian hidup yang mencoba menipiskannya. Plus faktor terpenting dalam hidupku, faizi ku tersayang. Serta karena terutama aku punya Sang Prima Causa.
Satu kali, tetangga sambil bawa bayi kecilnya yang berumur 6 bulanan, datang mendekat. Bu, katanya, kemarin ada acara pelepasan Pak Rico dan Ny. Kok ngga dateng? padahal pelepasan itu juga untuk suami ibu dan ibu loh. I was like huuuu???? What is this. Orang yang mau di lepasnya juga udah dimana tau. Kalo cuma aku yang datang, kok kayak dagelan ya. Untunglah, aku memang ngga merasa di tembusi sehingga aku tak tau menau acara itu. Sang tetangga meneruskan, katanya, Komandan minta tolong sampaikan pesan ke ibu, mohon maaf kalau kemarin suami ibu tidak sempat ada acara pelepasan nya. Mudah2an ibu ngga kecewa. Seperti biasa, aku hanya tersenyum...
Sampai di rumah, aku berpikir...hhmmm...apa jadinya ya kalo ada pelepasan. pasti ada rasa haru, rasa bangga (apalagi suamiku pergi untuk tugas yang sifatnya "istimewa"), menambah kekuatan bagi suami yang pergi dan kesabaran bagiku dan keluarga. Sayang sekali ya, acaranya ngga diadakan, pikirku. Kecewa? Not at all. Beneran, not a single second.
Kupikir, kali ini aku merasa beruntung karena aku bukan orang yang tahu banyak hal tentang kedinasan suamiku. Tak ada satu keluarga intiku yang jadi tentara. Hanya kakek almarhum, saja. Itu pun dia dinas kesehatannya. Lainnya, politikus, pengusaha, pegawai negeri, profesi. karyawan swasta pun sangat jarang. Bagiku, tak pernah terpikir dan terbayangkan apa yang dikerjakan seorang tentara selain perang. Tragisnya, aku kuliah di sospol yang mana adalah kebanyakan aktivis aktivis vokal yang selalu berpandangan bahwa di negara demokrasi, tentara harus kembali ke barak, paling depan saat menurunkan mantan presiden HM Soeharto (alm) tahun 1998. Semakin tak mengertilah aku akan idealisme seorang tentara. Sampai ketika seorang pa mendatangiku (yg kemudian menjadi suamiku) di pertemuan pertama dan langsung ngajakin kawin(emang ya, tentara dimana mana, agresiif). I was like, huuuu???? Ok. Iya, aku jawab ok. (Ini tak tulis lain kali deh).
Tapi, swear, bahkan sampai ketika aku sudah menikah pun, tak pernah aku merasa hands on banget sama dunia ini. Entah karena aku bekerja full time atau memang bagiku tentara, ya orang biasa juga. Kecuali satu hal, yang sangat sangat aku kenal, tentara tak akan pernah memiliki idealismenya sendiri. Karena mereka terikat dalam satu ikatan komando. It's never easy to get to know a soldier personality, because their personality is their command. Ini sesuatau yang menurutku, apa ya, ngga, ngga ada satu katapun yang bisa represent this. Hanya..?????.....
Balik lagi ke soal pelepasan. Karena ketidaktauanku, maka tak kecewalah aku. Pertama karena latar belakangku di atas. Kedua, karena aku merasa mendapatkan berkah dari Allah yang lebih banyak dengan perginya suamiku. Mulai merasakan ada tetesan embunyang selama ini hilang, kepercayaan. Kalaupun saat suamiku kembali harus bergulat dalam dunia yang sebelumnya, tak apa lah. Karena kepercayaan yang ada sekarang akan kulipatgandakan sehingga dia akan menjadi sangat tebal ketika ada ujian ujian hidup yang mencoba menipiskannya. Plus faktor terpenting dalam hidupku, faizi ku tersayang. Serta karena terutama aku punya Sang Prima Causa.
Liburan 4 hari (bag 1)
Empat hari sudah saya menghabiskan waktu di rumah karena liburan panjang. Menyenangkan campur melelahkan. Asisten rumah pulang kampung 3 hari, baru balik sabtu sore. Jadilah aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian selama dia ngga ada. Faizi sudah semakin banyak keinginan. Persis seperti info dari buletin update bulanan bayi dari situs terkenal di Amerika. Maunya melakukan hal dengan caranya. Ini akan sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya karena si anak mulai memiliki keyakinan untuk membuat keputusan, which way he wanted to do. Very very very interesting, indeed. Makin besar, anak ini makin membuat saya menjadi ibu. Aneh rasanya. I never thought that I will feel the way I feel right now. Dulu kupikir, aku akan jadi wanita karir yang bisa seimbang dengan menjadi ibu rumah tangga. Seperti biasa, sok sok berteori. Tapi nyatanya, setelah semua terjadi, setelah faizi ada di rahimku, setelah dia menjadi semakin besar, I found out that, time is the most precious things he need from me which I also do not want to loose the time with him. Ngga bisa, teori quality time ngga ada. Ngga ada tanpa sebelumnya ada kuantitas yang mencukupi. How will I know faizi well without spends more time together? How will Faizi know that he is loved very very much by me? He will probably need me more in the next year and after, up to age 7 years, I will be his everything. And this four days has been strengthening this assumption.
I am pretty sure that I am not yet a best mom. Not yet. I still have to shape up the patient, the sensitivity, the creativity, the initiatie, and much much more a best mom will have as traits. I am probably not even close to that. All i have for my son is the biggest love in the world which I wish can be the start point to gain any other things required.
I got to have plan on this. I promise you son, that I will do my very best for you.
I am pretty sure that I am not yet a best mom. Not yet. I still have to shape up the patient, the sensitivity, the creativity, the initiatie, and much much more a best mom will have as traits. I am probably not even close to that. All i have for my son is the biggest love in the world which I wish can be the start point to gain any other things required.
I got to have plan on this. I promise you son, that I will do my very best for you.
Monday, March 17, 2008
Tulisan Untuk Kantorku tercinta
Ku tuliskan ini saat aku kangen menulis...
Si Akim baru saja sampe ke pabrik. Dia parkirkan motor, berjalan menuju mesin absensi, memasukkan nomor induk nya lalu menempelkan telapak tangannya di mesin itu. Pas, jam 15.00. Hujan tidak menghalangi niatnya untuk datang tepat waktu. Jujur saja, bukan karena dia mau digolongkan sebagai karyawan disiplin tapi karena dia tidak mau ditegur atasannya lalu kehilangan pekerjaan yang baru saja dia dapatkan setahun ke belakang. Meski awalnya harus rela jadi karyawan kontrak, namun tahun 2007 membawa berkah baginya dan diangkat jadi karyawan tetap. Aku tak boleh bikin masalah, bisiknya dalam hati…
Akim pun berjalan menuju lokernya. Dia simpan jaketnya, ambil kacamata safety, memeriksa dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Ear plug, masker, sarung tangan sudah ada. Kupikir aku sudah siap bekerja. Aku harus ikuti aturan di kantor ini. Aku tak boleh bikin masalah…
Lalu dia pun berjalan menuju mesin tempatnya bekerja. Mulailah dia bekerja, sampai kemudian tak terasa sudah jam 17.00. Setelah mendapatkan izin dari atasannya, Akim berniat untuk shalat Ashar. Dia ambil wudhu, disimpannya kacamata dan semua perlengkapan keselamatan kerja di dekatnya. Dia tak mau kehilangan itu semua. Daripada kena denda, diceramahin pula sama Pak Eri dan Bu Rina. Aku harus simpan ini baik-baik, Aku tak boleh bikin masalah…
Selesai shalat, Akim buru-buru kembali ke tempatny bekerja. Setelah beberapa langkah meninggalkan musholla, Akim teringat untuk menggunakan peralatan safety nya. Tak lama kemudian dia melihat Pak Raspati dan Pak Eri melakukan inspeksi. Duh….selamet…untung semua APD sudah kupakai. Di ujung sebelah kanannya, di area gudang, dia melihat Pak Ery sedang memanggil si Udin. Kurasa karena Udin tidak memakai kacamata safety. Aku benar-benar tak mau bikin masalah.
Waktu pun terus berjalan, Akim meneruskan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing, mungkin karena hujan apalagi tadi siang aku belum makan, istriku sibuk mengurus si kecil yang lagi rewel. Tak apa, aku bisa cari sedikit untuk menambal perutku. Akim pun berjalan menuju koperasi, dan karena pusing kepalanya, dia melepaskan kacamatanya. Dia tak sadar, di bawah tangga menuju lantai 2 tempat koperasi berada, sudah ada sepasang mata memperhatikannya. Pak Akim, panggil orang itu. Ealaaah…mati aku…Maaf Pak, saya…saya…tidak bermaksud mencari masalah…
Pak Akim mau ke koperasi ya, kata orang itu, panggil saja si fulan. Bareng yu, saya juga mau cari makanan. Dengan jantung berdebar kencang, Akim tak punya pilihan selain mengikuti langkah si fulan menaiki tangga. Pak, kata fulan, sedang sakit? Kelihatannya pucat. Iya, jawab Akim. Saya belum makan siang, makannya saya pusing dan bermaksud beli roti. Maaf ya kalo saya jadinya melanggar peraturan. Fulan hanya tersenyum…Akim pusing tujuh keliling mengartikan senyuman itu.
Di koperasi, Akim mengambil sepotong roti. Fulan mengajaknya duduk di kantin. Jantung Akim makin berdetak kencang, dia membayangkan Surat Peringatan, istrinya, anaknya…kepalanya bertambah pusing ketika melihat senyuman fulan.
Pak, kata fulan. Saya percaya bapak tidak ada maksud untuk melanggar peraturan dengan tidak menggunakan kacamata safety. Dan saya yakin bapak pasti berpikir saya akan melaporkan bapak ke atasan bapak. Ngga kok, Pak. Saya hanya ingin berbagi saja sama Pak Akim.
Saya pikir kita semua di sini harus sadar bahwa APD yang disediakan perusahaan itu bukan menjadi bagian dari peraturan yang harus kita takuti sehingga kita ikuti. Tapi kita harus melihatnya sebagai fasilitas yang diberikan perusahaan kepada kita semua. Seperti halnya mushola, kantin, tempat parkir, asuransi kesehatan, program kesehatan dan keselamatan kerja juga merupakan fasilitas perusahaan. Sesuatu yang disediakan untuk membuat karyawan menjadi nyaman dalam bekerja sehingga keselamatan kita lebih terjamin. Coba deh, kalau Pak Akim bisa menggunakan APD dan semua program K3 sebagai fasilitas kantor yang menunjang pekerjaan kita, pasti kita akan merasa lebih ikhlas untuk memakainya.
Oh…Akim tertegun. Anak muda ini kurasa ada benarnya juga. Aku tak pernah berpikir begitu.
Fulan pun mengakhiri pembicarannya, Maaf ya pak, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi dengan Pak Akim. Sekali lagi maaf ya Pak.
Akim tak bisa berkata, hanya terlontar senyuman. Ya ya…katanya dalam hati. Mereka pun berpisah. Akim sudah merasa jauh lebih baik. Dia kembali ke lantai dasar, dia pakai kacamatanya, dan dia bergumam dalam hati…bukan aku tak boleh bikin masalah, tapi aku tau, ini adalah fasilitas yang menjadi hak ku untuk bekerja dengan selamat.
Si Akim baru saja sampe ke pabrik. Dia parkirkan motor, berjalan menuju mesin absensi, memasukkan nomor induk nya lalu menempelkan telapak tangannya di mesin itu. Pas, jam 15.00. Hujan tidak menghalangi niatnya untuk datang tepat waktu. Jujur saja, bukan karena dia mau digolongkan sebagai karyawan disiplin tapi karena dia tidak mau ditegur atasannya lalu kehilangan pekerjaan yang baru saja dia dapatkan setahun ke belakang. Meski awalnya harus rela jadi karyawan kontrak, namun tahun 2007 membawa berkah baginya dan diangkat jadi karyawan tetap. Aku tak boleh bikin masalah, bisiknya dalam hati…
Akim pun berjalan menuju lokernya. Dia simpan jaketnya, ambil kacamata safety, memeriksa dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Ear plug, masker, sarung tangan sudah ada. Kupikir aku sudah siap bekerja. Aku harus ikuti aturan di kantor ini. Aku tak boleh bikin masalah…
Lalu dia pun berjalan menuju mesin tempatnya bekerja. Mulailah dia bekerja, sampai kemudian tak terasa sudah jam 17.00. Setelah mendapatkan izin dari atasannya, Akim berniat untuk shalat Ashar. Dia ambil wudhu, disimpannya kacamata dan semua perlengkapan keselamatan kerja di dekatnya. Dia tak mau kehilangan itu semua. Daripada kena denda, diceramahin pula sama Pak Eri dan Bu Rina. Aku harus simpan ini baik-baik, Aku tak boleh bikin masalah…
Selesai shalat, Akim buru-buru kembali ke tempatny bekerja. Setelah beberapa langkah meninggalkan musholla, Akim teringat untuk menggunakan peralatan safety nya. Tak lama kemudian dia melihat Pak Raspati dan Pak Eri melakukan inspeksi. Duh….selamet…untung semua APD sudah kupakai. Di ujung sebelah kanannya, di area gudang, dia melihat Pak Ery sedang memanggil si Udin. Kurasa karena Udin tidak memakai kacamata safety. Aku benar-benar tak mau bikin masalah.
Waktu pun terus berjalan, Akim meneruskan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing, mungkin karena hujan apalagi tadi siang aku belum makan, istriku sibuk mengurus si kecil yang lagi rewel. Tak apa, aku bisa cari sedikit untuk menambal perutku. Akim pun berjalan menuju koperasi, dan karena pusing kepalanya, dia melepaskan kacamatanya. Dia tak sadar, di bawah tangga menuju lantai 2 tempat koperasi berada, sudah ada sepasang mata memperhatikannya. Pak Akim, panggil orang itu. Ealaaah…mati aku…Maaf Pak, saya…saya…tidak bermaksud mencari masalah…
Pak Akim mau ke koperasi ya, kata orang itu, panggil saja si fulan. Bareng yu, saya juga mau cari makanan. Dengan jantung berdebar kencang, Akim tak punya pilihan selain mengikuti langkah si fulan menaiki tangga. Pak, kata fulan, sedang sakit? Kelihatannya pucat. Iya, jawab Akim. Saya belum makan siang, makannya saya pusing dan bermaksud beli roti. Maaf ya kalo saya jadinya melanggar peraturan. Fulan hanya tersenyum…Akim pusing tujuh keliling mengartikan senyuman itu.
Di koperasi, Akim mengambil sepotong roti. Fulan mengajaknya duduk di kantin. Jantung Akim makin berdetak kencang, dia membayangkan Surat Peringatan, istrinya, anaknya…kepalanya bertambah pusing ketika melihat senyuman fulan.
Pak, kata fulan. Saya percaya bapak tidak ada maksud untuk melanggar peraturan dengan tidak menggunakan kacamata safety. Dan saya yakin bapak pasti berpikir saya akan melaporkan bapak ke atasan bapak. Ngga kok, Pak. Saya hanya ingin berbagi saja sama Pak Akim.
Saya pikir kita semua di sini harus sadar bahwa APD yang disediakan perusahaan itu bukan menjadi bagian dari peraturan yang harus kita takuti sehingga kita ikuti. Tapi kita harus melihatnya sebagai fasilitas yang diberikan perusahaan kepada kita semua. Seperti halnya mushola, kantin, tempat parkir, asuransi kesehatan, program kesehatan dan keselamatan kerja juga merupakan fasilitas perusahaan. Sesuatu yang disediakan untuk membuat karyawan menjadi nyaman dalam bekerja sehingga keselamatan kita lebih terjamin. Coba deh, kalau Pak Akim bisa menggunakan APD dan semua program K3 sebagai fasilitas kantor yang menunjang pekerjaan kita, pasti kita akan merasa lebih ikhlas untuk memakainya.
Oh…Akim tertegun. Anak muda ini kurasa ada benarnya juga. Aku tak pernah berpikir begitu.
Fulan pun mengakhiri pembicarannya, Maaf ya pak, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi dengan Pak Akim. Sekali lagi maaf ya Pak.
Akim tak bisa berkata, hanya terlontar senyuman. Ya ya…katanya dalam hati. Mereka pun berpisah. Akim sudah merasa jauh lebih baik. Dia kembali ke lantai dasar, dia pakai kacamatanya, dan dia bergumam dalam hati…bukan aku tak boleh bikin masalah, tapi aku tau, ini adalah fasilitas yang menjadi hak ku untuk bekerja dengan selamat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
