It's been a while since my last writing. Sejak Faizi bisa jalan, sejak saya diribetkan dengan masalah pembantu, sejak a -long exhaustive never ending -fights with husband. Pulang kantor, masih harus mengerjakan kondisi rumah yang selalu belum beres, faizi yang udah pinter banget dan ngga mau lepas dari saya (lagian mau sama siapa lagi?, pembantu nya ngga telaten) plus suami yang ba'da maghrib hampir setiap hari udah siap2 mandi mau keluar malam. Jam 12 malam pulang sih terbilang cepet, jam 1 pulang bisa dibilang untung...bangun pagi, dengan hati yang gundah, bete, pembantu juga ngga kooperatif, datang kantor kesiangan, badan ngga fit, dst..dst...dari mulai ultah saya, ultah suami, ultah pernikahan, ganti bulan agustus, ganti bulan septemper...dan semua terus berlanjut sampai pada satu hari, di tanggal 7 Sept...
Saya dan suami pergi ke ciamis, bumiayu lalu semarang. Siapapun yang kenal saya pasti tau kalo i am a traveller, tapi semangat traveller itu sama sekali tidak saya rasakan kali ini. satu satunya yang bikin semangat adalah karena saya mau menjenguk makam ibu saya after three years. dan karena saya ingin membuat hubungan kami menjadi lebih baik dan menghargai niatan baik suami.
So, everything was packed, faizi sehat 100%, pembantu ikut meski cuma buat menuh2in mobil (sori kasar, abis bener2 ngga bisa bantuin gw selama perjalanan).
Jum'at 7 Sept kami berangkat jam 7 pagi. Tujuan pertama, ciamis, makam ibu saya. Kami mampir dulu di tasik, kota tempat tinggal tante saya yang kebetulan juga sahabat suami saya (well, we actually get to know each other by her). Di sana, suami saya telpon kawan2 lamanya untuk bertemu, ada anggota dewan setempat, ustadz panggilan dan suami tante saya yang juga temen mereka. Well, i am happy watching my husband laughing out loud. Mencoba untuk meluruskan segala hal yang bengkok antara dia dan teman-temannya yang menyangka saya yang terlalu posesif sehingga suami saya ngga pernah bisa ikut reunian sejak nikah. pliss dehh...OK lah, husband was stand for me. Keliatan wajah-wajah ngga enak dari teman-temannya. Lega, karena ini selalu jadi ganjelan di hati saya dan sekarang sudah lurus, meskipun masih ada beberapa teman yang masih harus diluruskan..
Lalu, jam 12 kurang, kami lanjut ke Ciamis, tadinya mau mampir ke rumah temannya lagi, tapi terlewat sementara adzan Jum'at sudah membayangi. Mobil terus melaju ke ciamis, ke rumah orang tua tante saya yang di tasik tadi, yang dulu pernah mau angkat saya jadi anaknya (yes, we are that close). Sesampainya, Jum'at sudah bubar, suami tidak sempat shalat. Ketuk pintu rumah kakek saya, dan terlihat wajah berbinar-binar. Kakek saya ini yang dulu menjadi perwakilan keluarga besar saat menerima pinangan suami, dan sejak menikah belum pernah kami sambangi rumahnya. Tak heran kalo dia terlihat senang, campur marah campur terkejut. Tapi semua lebur, dan tersisa bahagia ketika wajah kakek mendapati faizi yang saat itu baru bangun tidur.
Ngobrol ngobrol, makan makan sambil meluruskan kaki yang kayak mau patah, kami pun bersiap siap ke makam mamah. Saat itu, suami, seperti biasanya, selalu bisa ngobrol dengan siapapun, hangat dan menyenangkan. Saat kami pergi ke makam pun, saya merasa kehangatan dia yang belakangan ini hilang karena kesibukannya, muncul kembali. Semua detail detail kecil saya nikmati betul, rangkulannya, genggaman tangannya, bicaranya yang halus, tawarannya untuk merenovasi makam ibu (meski saya tolak), suaranya saat membacakan Yassin bersama-sama. Merduuu sekali....Saya menangis, kangen sekali sama mamah, dan kangen pada suami....
Kembali dari makam, kami merencanakan untuk jalan-jalan di kota itu malamnya. ya ampun, jalan-jalan...satu hal yang tidak pernah dengan senang hati dia lakukan kalau di rumah. Sekarang lain, meskipun saat jalan-jalan itu, kami bertemu dengan salah satu temannya yang juga perlu diluruskan permasalahan persepsi dia tentang saya, it was still jalan-jalan. Semangat jalan-jalan saya pun mulai saya rasakan menjalari hati dan saya mulai menikmatinya. Malam meninggi, kami pulang dan bersiap untuk ke bumiayu besok subuh.
Di perjalanan, faizi seperti biasa, jam 8 an tidur pagi, sesudah mandi pagi dan makan pagi. And something happen in the way to heaven. Suami dan saya bicara, this time is really "bicara". I feel needed, reached, get togetherly, and so on. This long travel is just one hour away for me. Ada senyuman, canda, bernyanyi bersama, saling bercerita...This is just great..
And the great is even more saat kita sampai di kampungnya di bumiayu. Jam 9 pagi berangkat dari ciamis, sampai jam 12 siang. Saya bisa merasakan kerendahan hati suami ku, rasa rindu yang mendalam akan kepolosan dan kesederhanaan, keinginan untuk bisa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Apalagi saat ziarah ke makam ibunya. I know that you are kind, mas....but it was lost back there in our home, you are just too busy that you lost your kindness, you probably have no time to just relax, to remind you of what life is, and how you want to live it, you have no power to do that, and sometime it just breaking all we have in our home. Another jalan-jalan time di bumiayu, just to show me how was the city, how you love simplicity so much, how you love to see me in jilbab and get along with all your family, orang-orang dusun di sana.
Having driving a long way, you still have spirit to show faizi and me. Hari minggu pagi jam 7, kita berangkat ke semarang. You look no tired at all, you even have the energy to babysit faizi while i'm preparing everything and assure nothing is left behind. Again, i am enjoying this detail of your love and care. This is expensive for me to have. Just another heaven we have along the 6 hours way to semarang and the one night stay there, seeing all his family whom are warmth, nice to talk to, just the way you really are, i'm sure, husband.
Senin paginya, 10 Sept, kami pulang langsung ke purwakarta, everything is in good condition. Car are all set, faizi is just a strong boy, and husband and me has a wonderful time together. I will remember this in my time carrying on the marriage. I will remember husband as a loving husband, kind, love me and faizi, willing to satisfy, unwilling of complication, love his family very much. Terima kasih ya Allah, untuk segala cobaan yang Engkau berikan dan segala nikmat yang Engkau limpahkan. Kami yakin ini adalah yang terbaik bagi kami, Ya Rabb.
Tuesday, September 11, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
