Sunday, March 23, 2008

Liburan 4 hari (bag 2)

Empat hari liburan ini juga sudah membuatku punya waktu untuk sekedar berbincang-bincang di pagi hari dengan tetangga. Aku memang selalu menikmati waktu menyuapi Faizi di pagi hari sambil main main di halaman rumah. Mata kecilnya akan mulai mencari cari ayam atau kucing yang memang sering berkeliaran di sekitar rumah dan saat ketemu...naahh...dia kejar-kejar tuh sampe ngga peduli di depannya ada apa plus teriakan-teriakan kegirangan yang barangkali kedengeran sampe ujung blok (sebagaimana saat dia menangis, tentunya...) O, how much I love to see your big smile and your loud voice, son, as I hear the most beautiful music which always echoing in my ears nomatter where I am.
Satu kali, tetangga sambil bawa bayi kecilnya yang berumur 6 bulanan, datang mendekat. Bu, katanya, kemarin ada acara pelepasan Pak Rico dan Ny. Kok ngga dateng? padahal pelepasan itu juga untuk suami ibu dan ibu loh. I was like huuuu???? What is this. Orang yang mau di lepasnya juga udah dimana tau. Kalo cuma aku yang datang, kok kayak dagelan ya. Untunglah, aku memang ngga merasa di tembusi sehingga aku tak tau menau acara itu. Sang tetangga meneruskan, katanya, Komandan minta tolong sampaikan pesan ke ibu, mohon maaf kalau kemarin suami ibu tidak sempat ada acara pelepasan nya. Mudah2an ibu ngga kecewa. Seperti biasa, aku hanya tersenyum...
Sampai di rumah, aku berpikir...hhmmm...apa jadinya ya kalo ada pelepasan. pasti ada rasa haru, rasa bangga (apalagi suamiku pergi untuk tugas yang sifatnya "istimewa"), menambah kekuatan bagi suami yang pergi dan kesabaran bagiku dan keluarga. Sayang sekali ya, acaranya ngga diadakan, pikirku. Kecewa? Not at all. Beneran, not a single second.
Kupikir, kali ini aku merasa beruntung karena aku bukan orang yang tahu banyak hal tentang kedinasan suamiku. Tak ada satu keluarga intiku yang jadi tentara. Hanya kakek almarhum, saja. Itu pun dia dinas kesehatannya. Lainnya, politikus, pengusaha, pegawai negeri, profesi. karyawan swasta pun sangat jarang. Bagiku, tak pernah terpikir dan terbayangkan apa yang dikerjakan seorang tentara selain perang. Tragisnya, aku kuliah di sospol yang mana adalah kebanyakan aktivis aktivis vokal yang selalu berpandangan bahwa di negara demokrasi, tentara harus kembali ke barak, paling depan saat menurunkan mantan presiden HM Soeharto (alm) tahun 1998. Semakin tak mengertilah aku akan idealisme seorang tentara. Sampai ketika seorang pa mendatangiku (yg kemudian menjadi suamiku) di pertemuan pertama dan langsung ngajakin kawin(emang ya, tentara dimana mana, agresiif). I was like, huuuu???? Ok. Iya, aku jawab ok. (Ini tak tulis lain kali deh).
Tapi, swear, bahkan sampai ketika aku sudah menikah pun, tak pernah aku merasa hands on banget sama dunia ini. Entah karena aku bekerja full time atau memang bagiku tentara, ya orang biasa juga. Kecuali satu hal, yang sangat sangat aku kenal, tentara tak akan pernah memiliki idealismenya sendiri. Karena mereka terikat dalam satu ikatan komando. It's never easy to get to know a soldier personality, because their personality is their command. Ini sesuatau yang menurutku, apa ya, ngga, ngga ada satu katapun yang bisa represent this. Hanya..?????.....
Balik lagi ke soal pelepasan. Karena ketidaktauanku, maka tak kecewalah aku. Pertama karena latar belakangku di atas. Kedua, karena aku merasa mendapatkan berkah dari Allah yang lebih banyak dengan perginya suamiku. Mulai merasakan ada tetesan embunyang selama ini hilang, kepercayaan. Kalaupun saat suamiku kembali harus bergulat dalam dunia yang sebelumnya, tak apa lah. Karena kepercayaan yang ada sekarang akan kulipatgandakan sehingga dia akan menjadi sangat tebal ketika ada ujian ujian hidup yang mencoba menipiskannya. Plus faktor terpenting dalam hidupku, faizi ku tersayang. Serta karena terutama aku punya Sang Prima Causa.