Monday, March 17, 2008

Tulisan Untuk Kantorku tercinta

Ku tuliskan ini saat aku kangen menulis...

Si Akim baru saja sampe ke pabrik. Dia parkirkan motor, berjalan menuju mesin absensi, memasukkan nomor induk nya lalu menempelkan telapak tangannya di mesin itu. Pas, jam 15.00. Hujan tidak menghalangi niatnya untuk datang tepat waktu. Jujur saja, bukan karena dia mau digolongkan sebagai karyawan disiplin tapi karena dia tidak mau ditegur atasannya lalu kehilangan pekerjaan yang baru saja dia dapatkan setahun ke belakang. Meski awalnya harus rela jadi karyawan kontrak, namun tahun 2007 membawa berkah baginya dan diangkat jadi karyawan tetap. Aku tak boleh bikin masalah, bisiknya dalam hati…
Akim pun berjalan menuju lokernya. Dia simpan jaketnya, ambil kacamata safety, memeriksa dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Ear plug, masker, sarung tangan sudah ada. Kupikir aku sudah siap bekerja. Aku harus ikuti aturan di kantor ini. Aku tak boleh bikin masalah…
Lalu dia pun berjalan menuju mesin tempatnya bekerja. Mulailah dia bekerja, sampai kemudian tak terasa sudah jam 17.00. Setelah mendapatkan izin dari atasannya, Akim berniat untuk shalat Ashar. Dia ambil wudhu, disimpannya kacamata dan semua perlengkapan keselamatan kerja di dekatnya. Dia tak mau kehilangan itu semua. Daripada kena denda, diceramahin pula sama Pak Eri dan Bu Rina. Aku harus simpan ini baik-baik, Aku tak boleh bikin masalah…
Selesai shalat, Akim buru-buru kembali ke tempatny bekerja. Setelah beberapa langkah meninggalkan musholla, Akim teringat untuk menggunakan peralatan safety nya. Tak lama kemudian dia melihat Pak Raspati dan Pak Eri melakukan inspeksi. Duh….selamet…untung semua APD sudah kupakai. Di ujung sebelah kanannya, di area gudang, dia melihat Pak Ery sedang memanggil si Udin. Kurasa karena Udin tidak memakai kacamata safety. Aku benar-benar tak mau bikin masalah.
Waktu pun terus berjalan, Akim meneruskan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing, mungkin karena hujan apalagi tadi siang aku belum makan, istriku sibuk mengurus si kecil yang lagi rewel. Tak apa, aku bisa cari sedikit untuk menambal perutku. Akim pun berjalan menuju koperasi, dan karena pusing kepalanya, dia melepaskan kacamatanya. Dia tak sadar, di bawah tangga menuju lantai 2 tempat koperasi berada, sudah ada sepasang mata memperhatikannya. Pak Akim, panggil orang itu. Ealaaah…mati aku…Maaf Pak, saya…saya…tidak bermaksud mencari masalah…
Pak Akim mau ke koperasi ya, kata orang itu, panggil saja si fulan. Bareng yu, saya juga mau cari makanan. Dengan jantung berdebar kencang, Akim tak punya pilihan selain mengikuti langkah si fulan menaiki tangga. Pak, kata fulan, sedang sakit? Kelihatannya pucat. Iya, jawab Akim. Saya belum makan siang, makannya saya pusing dan bermaksud beli roti. Maaf ya kalo saya jadinya melanggar peraturan. Fulan hanya tersenyum…Akim pusing tujuh keliling mengartikan senyuman itu.
Di koperasi, Akim mengambil sepotong roti. Fulan mengajaknya duduk di kantin. Jantung Akim makin berdetak kencang, dia membayangkan Surat Peringatan, istrinya, anaknya…kepalanya bertambah pusing ketika melihat senyuman fulan.
Pak, kata fulan. Saya percaya bapak tidak ada maksud untuk melanggar peraturan dengan tidak menggunakan kacamata safety. Dan saya yakin bapak pasti berpikir saya akan melaporkan bapak ke atasan bapak. Ngga kok, Pak. Saya hanya ingin berbagi saja sama Pak Akim.
Saya pikir kita semua di sini harus sadar bahwa APD yang disediakan perusahaan itu bukan menjadi bagian dari peraturan yang harus kita takuti sehingga kita ikuti. Tapi kita harus melihatnya sebagai fasilitas yang diberikan perusahaan kepada kita semua. Seperti halnya mushola, kantin, tempat parkir, asuransi kesehatan, program kesehatan dan keselamatan kerja juga merupakan fasilitas perusahaan. Sesuatu yang disediakan untuk membuat karyawan menjadi nyaman dalam bekerja sehingga keselamatan kita lebih terjamin. Coba deh, kalau Pak Akim bisa menggunakan APD dan semua program K3 sebagai fasilitas kantor yang menunjang pekerjaan kita, pasti kita akan merasa lebih ikhlas untuk memakainya.
Oh…Akim tertegun. Anak muda ini kurasa ada benarnya juga. Aku tak pernah berpikir begitu.
Fulan pun mengakhiri pembicarannya, Maaf ya pak, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya ingin berbagi dengan Pak Akim. Sekali lagi maaf ya Pak.
Akim tak bisa berkata, hanya terlontar senyuman. Ya ya…katanya dalam hati. Mereka pun berpisah. Akim sudah merasa jauh lebih baik. Dia kembali ke lantai dasar, dia pakai kacamatanya, dan dia bergumam dalam hati…bukan aku tak boleh bikin masalah, tapi aku tau, ini adalah fasilitas yang menjadi hak ku untuk bekerja dengan selamat.

No comments: