Wednesday, April 9, 2008

Special Day in Early April

9 April 2008.

Aku tak menganggap penting hari ini sebelumnya. Yang aku ingat hanya bahwa aku harus bangun lebih pagi karena akan menghadiri acara Pe**it. Malam tadi, alarm handphone kupasang di 04.45. Cukup, pikirku. Pagi kemudian datang ditandai alarm bunyi. Aku bangun, olahraga kecil, meregangkan leher, kaki, pinggang dan tangan (program pagiku yang baru seminggu). 15 menit berlalu, lumayan, badan udah anget. Aku pun mandi dan mencuci rambut, I don't want others think that I am not taking care of my self. Kupakai kaos dan celana jeans selutut. Lalu shalat subuh. Kulihat faizi di kamar, masih bobo. Belakangan dia memang cenderung bangun siang, jam 8. Ngga seperti waktu masih bayi 1 tahun yang bisa bangun jam 5 (lalu bangunin ibunya yang masih meringkuk disampingnya). Jam 06.00. Heran, tiap-tiap mau ikutan acara serupa, pasti jam berjalan lebih cepat ya (atau aku yang lelet). Setelah mukena terlipat, aku mulai merapikan wajah (baca: make up). Tipis-tipis yang penting ngga pucet. Aku ambil baju seragam PSU, rapi, harum kecuali roknya yang bergaris bekas lipatan. Kurapikan sebentar pakai setrika. Sepatu sudah dilap. Tas hitam kecil siap untuk dibawa. There you go, all set. Jam 07.15 baru kupakai seragamnya, sekarang masak dulu aja, pikirku. Di kulkas ada daging sapi 1 kg, kol putih, jagung, wortel, telur. Daging kupotong kecil2, rebus. Kutumis bawang putih, bawang merah, cabe merah dan cabe ijo nya dikit (pengenalan rasa buat faizi), kolnya dimasukkin, aduk rata, selesai. Jagung kuupil, wortel nya di slice tipis panjang, masukkan ke adonan tepung tambah garam, bawang daun, digoreng, jadilah ba'wan jagungnya. Telur kusemur saja, ini makanan favoritnya izi. Pukul 7.20. BErgegas aku ke kamar, ganti baju seragam PSU, ambil tas, pake sepatu. Izi masih belum bangun. Aku pun berlalu pergi sambil sedikit berteriak ke teteh, "Ibu pergi, teh, jangan lupa mandiin izi, kasih sarapan ya."
Acara mulai jam 8.30, ngga aneh, Indonesia emang jagonya kalo soal ngaret sih. Sampai di bagian sambutan oleh Ibu Ketua, I was amazed. She is one of the kind, deh. Dia beberkan ilmu yang didapat ketika ada acara kumpul ibu pejabat di Jakarta. Ilmu yang didapat dari penceramah yang adalah Psikolog. Judul, "9 hal yang perlu diwaspadi dalam kehidupan pernikahan"....weiitss...langsung ibu-ibu pasang silence mode yang tadinya noisy banget ngerumpi.1. kelahiran anak pertama. 2. anak cacat atau sakit. 3. Istri bekerja. 4. Masalah keuangan. 5. menopause. 6. anak meninggalkan rumah (menikah). 7. suami sukses, materi berlimpah. 8. suami pensiun. 9..lupa..
Pointnya biasa aja, tapi penjelasannya yang bikin ibu-ibu betah ngedengerin Beliau bicara. Sama halnya dengan aku yang baru kali ini merasakan nikmatnya ikut acara ngumpul seperti ini, terutama karena di sela-sela speechnya, ibu ngomong, "seperti bu Faozan ini loh, ibu-ibu semua tau ngga kemana Kasi Intel kita?. serentak semua menyebutkan satu daerah konflik terpencil, ibu meneruskan, "betul, nah, tapi bu faozan bisa hidup berjauhan dengan suaminya meskipun harus melakukan semuanya sendiri, bu faozan bisa tabah dan kuat". duh, mak nyus...dalem...air mata mulai menggenang. I guess, when we're fragile, we can take other kind easily. I'm sigh ing now...
Acara kemudian dilanjutkan potong tumpeng, begitu kata MC. Ha? ada apa ya? Ulang tahun Persit KCK yang ke 62. OOhhh...iya iya...rupanya ini bukan hari biasa seperti yang kuduga tadi pagi. Ini adalah hari ulang tahun organisasi istri istri tentara. Perempuan-perempuan kuat, I must say (not including me, the weak). This is a special day.
Selesai tumpengan, ada demo dari Martha Tilaar. Mbak-mbak cantik mulai memasuki ruangan membawa semua peralatan make up dan dus berisi produk yang seperti melambai-lambai minta dibeli. Aku tidak terlalu memperhatikan kesibukan mereka karena lagi sibuk ber hp an ria sama Ayah. Lalu samar kudengar, "bu..ibu.., bisa minta tolong?". Aku masih melihat ke hp ku. "Bu faozan...". Namaku dipanggil. spontan aku menengadahkan muka ke depan, "ya..?, saya?", jawabuk. "Boleh ngga minta tolong jadi model untuk di make over?", kata mbak dari Martha Tilaar. "saya?....". Aku salah tingkah. Yakin ni orang? Atas dasar apa? Apa gw mau dikerjain gara-gara jarang ikut kegiatan?. Tapi kalo nolak, bodo banget, kapan lagi gw kepilih jadi model make over?. Akhirnya aku maju, sambil tersenyum mengangguk ke Ibu Ketua, as if asking for permission. Lalu jadilah aku duduk di depan ratusan ibu-ibu sebatalyon di make over. wajah-wajah di depanku tersenyum, entah apa artinya, tapi aku senang. PErempuan mana yang tak senang didandani? Perempuan mana yang tak senang terpilih jadi model make over?(apapun alasannya). Setelah selesai wajah, rambutku dicempol oleh tim Rudi Hadisuwarno. Selesai. Seisi ruangan heboh, aku diminta berjalan berkeliling layaknya model. O my God. Sampai di ujung, buru-buru aku menuju ke tempat dudukku yang seling satu tempat duduk sama bu Ketua. Orang-orang mulai berbisik. Bisikan yang menyenangkan dan bikin pede deh. Dari mulai "cantik'", "pangling", "seger", dll, dll. This day is really really special, though.









3 comments:

Anita Akbar said...

hey you look beautiful after make over but honestly you look more beautiful with natural make up, keliatan gimannnaaa gitu hehehehe

Anonymous said...

kasi intel? elo jadi tentara?

indah yuliana said...

Iya, Cahyo
suami gw tengtra...
Apa kabar loe?