Ternyata tidak berlaku untuk semua orang di kantor ini. Ya, bulan April yang biasanya bulan berkah di kantor ku, ternyata tidak untuk sebagian orang. Setidaknya ada dua orang yang bicara langsung kepadaku dan menceritakan kesusahan hatinya tidak mendapatkan bonus dan kenaikan gaji yang memang selalu dilakukan di bulan April.
Entah apa sebabnya mereka bercerita, mudah-mudahan karena mereka percaya sama aku. Sebenarnya pun aku bukan penasihat yang baik, malah justru aku suka ikutan panas dan sama-sama mengutuk sistem penilaian yang berlaku di perusahaan ini. Kenapa sih harus ada yang tidak mendapatkan bonus? Kenapa ngga diambil aja sedikit-sedikit dari yang berprestasi dan diberikan kepada mereka yang dianggap kurang berprestasi. Berapapun nilainya, yang penting ada. Begitu kataku kepada Pak A. Mungkin karena Pak A merasa mendapatkan dukungan itulah makannya dia bercerita kepadaku. Dan hari ini pun dia update lagi ceritanya setelah dia menghadap bos besar dan mencurahkan isi hatinya (dan tetap tidak dapat bonus karena keputusan juri tidak dapat diganggu gugat...arrrgghh). Untunglah, saat ini Pak A, sudah diberikan jalan keluar oleh Yang Maha Kuasa sehingga faktor yang membuatnya dinilai buruk bisa tereliminir sejak awal April ini. At least April still a blessing month for him even in a different way. And hopefully, in next year he will get better. Amiin.
Lain dengan Pak B. Orang ini langganan warning letter. Emosian. Rebellion. Dan maaf, suka "malak" supplier. Pernah satu kali saya melihat dengan mata kepala sendiri dia berbicara dengan tangannya yang berarti minta rokok ke supplier. Entah dia sadar atau tidak bahwa perbuatannya itu sesungguhnya sudah menyalahi Code of Conduct perusahaan. Tapi peristiwa itu pun kutelan sendiri saja. Meski aku di HRD, aku belum merasa punya hak untuk jadi employee judge, at least I can not do it for now. Seperti halnya Pak A, Pak B pun di hari ini bicara denganku. Awalnya ngga curhat langsung, cuma nanyain, "Bu, ada spare pulpen gak?", aku yang juga office supplies controller, "ada, tapi harusnya bapak minta ke departemen bapak loh, nih, next time ke Pak Indra ya", kataku sambil menyodorkan pulpen. Kupikir sudah selesai, aku pun kembali menghadap layar monitor, tapi "Bu, saya udah ngga dapet ojek, keujanan, kepeleset, ditilang lagi", kata Pak B. I was like hu??? Dan seperti mengerti kernyitan mataku yang menyiratkan pertanyaan dia menjawab" iya, gak dapet bonus, gak ada kenaikan gaji pula"OOOhhh....and I am silence mode. "Duduk dulu, Pak" kubilang. "Ngga perlu, Bu, ngga enak," katanya menolak. Dia pun melanjutkan,"
Saya bilang sama bos kalau saya minta maaf, kemarin saya menghadap ke dia selama dua jam. Saya minta maaf karena saya emosi waktu mendengar berita itu. Tapi dia sudah panjang lebar menjelaskan. Mungkin saya nya memang harus memperbaiki diri ya bu. Saya beruntung punya bos kaya dia. Orangnya bijaksana bu. Cuman mungkin saya nya aja ya bu. bla..bla..bla...
Panjang lebar dia cerita. Satu hal yang membuatku makin respek dengan Pak Amin, (yang dimaksud atasan oleh Pak B( adalah bahwa dia masih mau menyisakan waktunya selama 2 jam , di luar jam kantor; daaan, dan, ini yang paling penting, dia bisa membuat Pak B ini cukup bijaksana memandang kejadian yang cukup mengecewakan baginya. Ini barang mahal di perusahaan ini. Sampai sampai aku pun termotivasi untuk ngomong ke Pak B. Ditambah lagi merasa terdorong oleh insting sosial ku. Aku punbicara ke Pak B.
"Pak, alhamdulillah kalau bapak sudah bisa terima semua ini. Mudah-mudahan bapak bisa menunjukkan yang lebih baik lagi ya. Satu hal Pak, kalau saya boleh ngomong, bapak harus merasa bersyukur punya atasan seperti dia, nah mumpung dia masih ada di sini, bapak gali ilmunya bagaimana untuk bisa jadi karyawan yang lebih baik. Dan, supaya tahun depan bapak bisa mendapatkan yang lebih baik, bapak harus dua kali lebih baik dari temen-teman bapak. Kalau sama dengan teman-teman, ntar ngga keliatan bedanya, Pak. Dan saya yakin bapak bisa." Aku ingin sekali melihat Pak B tahun depan, dalam hati.
Aku sebenarnya mengutip kata-kata in bold itu dari suamiku. Suamiku itu memang memiliki loyalitas luar biasa terhadap pekerjannya sampai sampai dia bilang, "Ayah ni bukan lulusan Ak*il bu, jadi ayah harus dua kali lebih baik dari mereka supaya orang tahu kemampuan ayah. Kalau ngga, orang ngga akan peduli. Jadi ibu harus percaya ayah meskipun ayah sering keluar malam, karena semata-mata demi tugas". Merinding rasanya mengingat ayah mengatakankan itu. Jatuh bangun aku mendampinginya, tapi lihatlah dia sekarang.
Condoleezza Rice, perempuan terkuat USA saat ini pun mendapatkan petuah yang sama dari ayahnya. We have to be double good than the white to make people realize your capability. Dan semua orang bisa melihat ada dimana dia sekarang.
Ya, aku berharap bisa melihat Pak B tahun depan mendapatkan prestasi, aku sudah melihat bagaimana ayah berprestasi dan aku pun terkagum-kagum dengan kekuatan Secretary Rice. All because they believe that they need to be double good than other, being minority. God has chose them to have double strength and I, of course, required to be also have double endurance.
Tuesday, April 22, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
Halo bu!
Apa kabar? Ka mana wae ieu teh? Mani ga pernah kedengeran lagi UI teh.. Jadi HRD nech sekarang? Siap2 dimusuhin orang ya bu, yg ga suka kbijakan perusahaan ;))
Eniwei, gw lagi melanglangbuana nech di Dili, tapi bulan depan juga insya allah dah balik ke Jkt koq. Teu betah2 amat di sini.
Cheers,
Rina Amalia
http://rievees.blogspot.com (indo)
http://bitsofrievees.blogspot.com (eng)
Hai, Bu....duuh...jauh amat di Dili...
Iya, gw di HRD, ngga sih kalau dimusuhin, palngan diomongin di belakang, he he
Lo kerja dimana sekarang, coy???
Kangen banget nih sesame blackies
Post a Comment