Thursday, June 7, 2007

Kehilangan asisten rumah nih

Lagi-lagi...saya kehilangan asisten rumah yang lebih dikenal orang dengan sebutan "pembantu". I never like using the word of pembantu. Meskipun dari makna denotatif, tidak ada penekanan yang sifatnya merendahkan kata itu. Tapi secara konotatif, sepertinya pembantu adalah pekerjaan rendahan. Bagaimana tidak, seorang pembantu punya job description yang tidak jelas dengan waktu kerja tidak jelas pula namun gajinya jelas jelas rendah. Sebegitu ngga jelas job des nya, sampai sampai orang yang mempekerjakan seorang pembantu, what so called majikan (i hate this word too), bisa menambahkan job des sebagai "alat latihan kekerasan" pada si pembantu. Sering denger kan pembantu yang dihajar majikannya? Ngga jarang pula diantara mereka yang mempertaruhkan nyawa.
Meskipun di awal tulisan ini saya terdengar seperti seorang aktivis HAM, saya tidak memungkiri kalau saya juga punya "pembantu", mulai dari sini kita ganti kata pembantu dengan "asisten rumah" aja ya. Asisten pertama saya ada pada saat kandungan saya umur tujuh bulan. Pertama ini dihitung mulai saya menikah. Rencananya, kami, saya dan suami bermaksud untuk mengajarkan dia banyak hal terutama yang terkait dengan pola pengasuhan bayi. Kami mau dia sudah menjadi bagian dari keluarga kita sebelum bayi kami datang. Sebut saja namanya Juliet...ciee...lebih keren dari nama gw kan.
She seem a very sweet person in the early time she worked for us. Kerjanya tanggap. Pagi-pagi jam 5 udah bangun, padahal ngga pernah kita minta. Nyuci, nyapu, ngepel rumah, nyapu halaman, cuci piring, masak...great banget deh. Masakannya enak pula. I just cant stop adore her along with my husband. Masa masa kandungan tua gw yang cukup "bermasalah", keluar masuk rumah sakit, bulak balik purwakarta bogor, dia dengan setia menemani. Saat suami gw dinas dan gw di rumah sakit pun, dia yang menginap menemani gw. KEgemilangannya juga berlanjut, ya ampun jadi kaya cerita sejarah hidup selebriti aja, ketika gw melahirkan dan tidak sedikitpun ada keraguan yang tampak saat mengurus bayiku. Mendampingi saya saat saya begitu ketakutannya meninggalkan dia untuk bekerja sementara dia tidak mau susu formula (saat itu saya belum dapat pencerahan sehingga masih percaya bahwa susu formula is just as great as asi, fool me!!). Sampai akhirnya kami berdua, juliet dan saya loh, bukan saya dan suami, berhasil membuat anak saya mau minum formula (I never end my sorry for this) dan saya pergi kerja dengan tenang.
Time flews and faizi has become a bigger, proactive baby and expressive one. Then something start to shows the other side of Juliet. Neighbours said that she has big mouth which can be danger for me since I live in a sorroundings where ethic is number one. Kebiasaannya yang mau menguasai tivi bahkan saat suami dan saya ada di rumah (we only have one), terlalu mengatur operasional rumah, etc, etc. I start to complaining about her to hubby. But man just the most unsensitive creatures in the world and he didnt give a damn concern about this stuffs. Until the day in february month of 2007 when my parents in law visiting us and stay for a whole week. HUbby was like stoned hearing news flash from his parents about juliet. Stories how juliet force faizi to eat in harrash way, bathing him in the same way, and how calm faizi was staying close to his grandparents. I just cant stop my tears falling down my cheek. This was not juliet false, it's mine, i told my self. Maafkan ibu, nak..
Tanpa pikir panjang lagi, saya lalu cari informasi sana sini. Saya pikir lebih baik berganti ganti asisten daripada stick to one tapi membahayakan mental anak saya. Tidak lama, seorang rekan di kantor kasih informasi. Setelah proses yang sedikit panjang, kami pun akhirnya berhasil memperkerjakan karsih, this is her real name. Dan Juliet pun mengundurkan diri tanpa harus pusing-pusing saya cari cari alasan memecat dia. God has been giving love to me...
Dengan bekal pengalaman pahit bersama juliet, saya pun menjadi lebih tegas dari awal. Saya katakan apa yang saya tidak suka dan apa yang saya harapkan dari seorang asisten rumah kepada karsih. She seems to understand even she's never work as assistance before. Hari ke hari saya ajarkan dia detail-detail pekerjaan rumah, tidak hanya garis besarnya saja seperti yang saya lakukan pada juliet. Saya perhatikan cara kerja dia dan saya ingatkan kalau dia salah. Never did this to juliet, I just gave the full trust to her. Saya minta dia bangun jam lima. Mulai dengan merendam baju, menyapu dan membereskan seisi rumah, memasak nasi, mencuci baju faizi dengan tangan sambil memutar mesin cuci untuk baju kami, dan mencuci piring. Jam 7 dia sudah bereskan semua dan saya pun sudah selesai masak untuk faizi. Karsih ambil faizi yang selama karsih dan saya sibuk ikutan sibuk duduk duduk di dapur, kasih makan, dan langsung bobo pagi. Jam delapan kurang saya berangkat, karsih mengepel lantai dan menjemur pakaian. Sore saya pulang, faizi saya ajak main sebentar, saya mandi, shalat, makan lalu main lagi dengan dia. Karsih sudah bisa beristirahat sambil nonton tivi dan tidur jam 8. Itu kira kira gambaran umum pekerjaan karsih.
Kalau dihitung-hitung dia bekerja sejak jam 5 sampai jam 6 sore. 12 jam. Bayarannya agak sedikit di atas rata-rata bayaran seorang asisten rumah di daerah saya. Siang hari, hampir setiap hari, faizi tidur siang, cukup lama, bisa dua sampai tiga jam, dan bisa dua kali. Karsih ikut beristirahat. Sabtu pagi dia akan pulang ke rumahnya dan kembali ke rumah saya di senin subuh. Sehingga hari kerjanya adalah 5 hari kerja. Like normal worker. Saya ingin membuat dia nyaman sebagaimana saya juga ingin nyaman dengan pekerjannya. Dan memang itu yang saya dapatkan. Karsih begitu manyayangi anak saya. Semua orang bilang begitu. karsih memang seorang gadis polos berumur 24 tahun beranak dua yang penyayang. kami pun menjadi sangat menyayanginya. Sayangnya....kami harus kehilangan dia sekarang.
Dimana lagi saya harus cari asisten sebaik karsih dan tidak seperti juliet...I will not let myself make the same mistake by choosing the wrong person for assistance.

No comments: